Hari lahir Pancasila sebagai momentun instropeksi diri

Pancasila yang kita kenal sebagai dasar negara, dimulai pada 1 Juni 1945. Pada saat itu Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) melangsungkan sidang pertamanya dan dalam sidang tersebut Ir. Soekarno menyampaikan gagasannya tentang konsepnya mengenai dasar negara Indonesia.

Kini 75 tahun sudah Pancasila sudah menjadi pedoman hidup bernegara kita, sudahkah kita benar-benar mengikuti sila-sila yang ada dalam pancasila?. Jika ingin bangsa ini menjadi baik, maka sebaiknya kembali pada nilai dasar, cara dan tujuan bangsa ini sebagaimana terkandung dalam Pancasila.

Sidang pertama BPUPKI pada 29 Mei 1945 di Gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6, Jakarta yang Sekarang menjadi Gedung Pancasila.(Arsip Nasional Republik Indonesia)

Sila 1 sd 3 adalah nilai dasar dan pandangan serta pedoman hidup bangsa ini. bangsa yang beragama, bangsa yang meyakini Tuhan dan ajaran agamanya, bangsa yang Humanis, adil dan beradab serta bangsa yang menjaga sendi kerukuknan dan persatuan di atas kebhinekaan yang dimilikinya.

Sila 4 adalah sistem berbangsa dan bernegara yang mendasarkan pada prinsip prinsip yang terkandung dalam sila 1 sampai 3. Dijalakan secara khidmad dan bijaksana dengan mengedepankan musyawarah, dialogis dan komunikasi dengan harapan tercapai cita-cita sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jika hari ini terasa makin berat mencapai cita-cita sila ke 5 mungkin kita perlu koreksi apakah cara yang kita pakai, sistem bermasyarakat, bermusyawarah kita, berpemerintahan kita, berdemokrasi kita, berpolitik kita apakah sudah sesuai dengan cara sila ke 4 atau belum dan apakah sesuai dengan nilai sebagimana ajaran Tuhan dan agama, apakah mngedepankan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dan apakah mengedepankan persatuan Indonesia atau belum.

Lihatlah cara beragama kita apakah memperhatikan aspek kemanusiaan atau justru karena agama kita rela menghakimi sesama umat anak bangsa. Lihatlah juga apakah nilai nilai toleransi kita kita bangun atas sendi ajaran agama yang universal ataukah kita toleransi yang kebablasan sehingga menawarkan ajaran kebenaran dan kebaikan yang diusung agama?.

Ilustrasi musyawarah dalam keberagaman (sumber : ruangguru.co.id)

Lihatlah apakah juga dalam memandang suku atau daerah lain kita makin bersatu, bersimpati dan saling mendukung ataukah justru hari ini sikap kedaerahan kita yang makin mengedepan. Lihat akibat covid, ketegangan antar daerah bahkan antar RT bisa terjadi, sendi perstuan kita terkoyak karena ego kelompok dan lingkungan kita.

Lihat pula demokrasi kita yang hari ini bukan mengedepankan azas musyawarah yang serius yang khidmad dan bijaksana tapi demokrasi kita sekarang terasa mengedepankan demokrasi kapitalis atau demokrasi pasar, keputusan bukan pada musyawarah tapi sering kali dibeli oleh yang punya kapital, musyawarah dalam kendali pemilik modal. Ini cara yang jauh bergeser dari cita cita sila 4 Pancasila. Jika begini, kita teriak teriak keadilan sosial bagaikan teriak dari dalam lorong goa.

MARI KITA KEMBALI PADA PANCASILA

Penulis : Miskari, SP (MWC NU Dampit)
Editor : Hasani Andik (ISNU Dampit)

Author: isnudampit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *