RAMADHAN DAN PERUBAHAN KEBERAGAMAAN DI TENGAH COVID-19

الحمد لله ذى الفضل والإحسان، والكرم والإمتنان، اصطفى نبينا محمدا على جميع الإنسان، وادبه وأحسن تأديبه، فكان خلقه القران. اللهم صل على سيدنا محمدن المختار، واله الأطهار، وأصحابه الأخيار اما بعد:

Makna dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Puasa membiasakan seorang hamba untuk bersabar menahan dan mengendalikan keinginan hawa nafsu, bukan hanya itu, sabar juga melatih diri atas penderitaan lapar dan dahaga selama sebulan penuh, dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Alasan utama mengapa seorang mukmin mampu mengahadapi penderitaan sepahit apapun di dunia ini, karena ia memiliki Allah Swt, Dia Maha Kuasa untuk melindungi hambaNya dan menyelamatkannya dari bencana, termasuk wabah covid-19, yang saat ini merajalela dan menebar teror di seluruh penjuru dunia. Melalui sabar dan sholat seorang hamba akan memperoleh pertolongan Allah Swt di saat bencana menerpa. Allah Swt berfirman:

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

Artinya: “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).

Makna sabar dalam menghadapi pandemi covid-19 selama ramadhan ini adalah dengan cara berdiam diri di rumah (stay at home) dengan mentaati aturan pemerintah, diisi dengan kegiatan positif, seperti dzikir, puasa, instropeksi diri (muhasabah), sholat berjam’ah bersama keluarga, mengkaji al-Qur’an bersama keluarga, dan tetap menjalankan tugas serta bekerja melalui metode work from home (WFH), yang artinya adalah bekerja dari rumah saja. Hal tersebut sebagai mana perintah Rasullah Saw agar selama wabah kaum mikminin diharuskan menjauh dari wabah, dengan cara tidak mendatangi wilayah di mana wabah tersebut berasal, dan tidak keluar dari wilayah masing-masing untuk menghidari kontak dengan seseorang yang terjangkit virus corona. Nabi Muhammad Saw bersabda:

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها أخبرتنا أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون فأخبرها نبي الله صلى الله عليه وسلم أنه كان عذابا يبعثه الله على من يشاء فجعله الله رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع الطاعون فيمكث في بلده صابرا يعلم أنه لن يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد

Artinya: “Dari Siti Aisyah RA, ia mengabarkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukannya, ‘Zaman dulu tha’un adalah siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tiada seorang hamba yang sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di negerinya dengan bersabar seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,’” (HR Bukhari).

Ilustrasi Work From Home. sumber : gizmologi.id

Perubahan Keberagamaan Selama Covid-19

Pada prinsipnya syari’at Islam tentang ubudiyyah tidak pernah mengalami perubahan, yang berubah adalah fiqih. Sebab fiqih bersifat elastif, maka fiqh sesungguhnya identik dengan syari’at pada aspek produknya, yakni hukum-hukum/aturan-aturan. Prinsip yang membedakan antara keduanya adalah bahwa Syari’at merupakan keputusan Nabi yang didasarkan pada wahyu Allah Swt, sementara Fiqh adalah produk ijtihad (aktifitas intelektual/ilmiyah) para ahli hukum setelah masa Nabi Muhammad Saw dengan mengacu pada teks-teks yang disampaikan Nabi Muhammad Saw, baik dalam bentuk wahyu Tuhan yang terhimpun dalam al-Qur’an maupun ucapan dan tradisi Nabi Muhammad Saw.

Prinsip perubahan keagamaan selama covid-19 merujuk pada ketentuan maqashid syari’ah yaitu hifdzul nafs (menjaga keselamatn jiwa/nyawa), disamping itu juga mengacu pada kaidah ushul fiqih yang berbunyi:

درء المفاسد مقدم علي جلب المصالح

Artinya: “Meninggalkan kerusakan lebih utama dari pada mengambil keuntungan.”

Di antara perubahan-perubahan keagamaan selama covid-19 : Pertama, Shaf sholat saat berjama’ah yang awalnya dirapatkan, berubah menjadi wajib dilonggarkan berjarak satu hingga dua meter. Kedua, Tradisi silaturrahim yang asalnya bersalaman, berubah menjadi larangan untuk saling bersalaman. Ketiga, Majlis taklim ramadhan yang awalnya sesak dan berjubel dengan jama’ah dan santri pesantren kilat ramadhan, berubah menjadi majlis taklim online memalui berbagai media: you tube, facebook, zoom maupun instagram, dll. Keempat, kewajiban shalat jum’at yang mulanya minimal 40 orang jama’ah, berubah menjadi boleh dilaksanakan di rumah, dan minimal dihadiri 3 atau 5 orang (menurut madzhab al-Imam al-Syafi’i)

Hikmah-hikmah dibalik musibah Pandemi Covid-19

  • Membiasakan Pola  Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Wabah corona mengakibatkan adanya aturan untuk disiplin hidup bersih dan sehat. Gaya hidup sehat  tentu perlu diterapkan untuk menangkal virus corona /covid-19. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta menerapkan etika batuk dengan menutupi mulut dan hidung, adalah cara atau upaya terbaik menghindari papaaran Virus Corona.

Allah Swt. memerintahkan manusia untuk disiplin dengan pola hidup bersih dan sehat sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surat At-Taubah Ayat 108

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا۟ ۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ

Artinya: “Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih”

Hidup sehat juga bisa dilakukan dengan cara menambahkan konsumsi sayur dan buah. Sayur atau buah yang bermacam-macam jenis, warna dan rasa, sesuai dengan selera. Buah banyak mengandung vitamin, sedangan sayur banyak mengandung serat dan menieral yang dibutuhkan tubuh manusia. Menurut penelitian orang yang lebih banyak makan buah lebih tidak mudah sakit

Himbauan PHBS dari Kementerian Kesehatan RI
  • Mencipkatan Keluarga Sakinah dan Penuh Kasih Sayang

Selama lockdown lokal, setiap keluarga diwajibkan oleh pemerintah untuk stay at home (berdiam diri di rumah). Kesempatan tersebut sangatlah baik untuk meningkatkan kualitas kasih sayang suami terhadap istri dan anak-anaknya. Sebelum adanya wabah corona, suami lebih sering di luar rumah karena mencari nafkah. Kalaupun ia di rumah, sudah tidak adal waktu yang cukup untuk berkomunikasi dan memberikan kasih sayang yang full kepada istri dan anak-anaknya. Biasanya hanya weekend saja, suami dapat memberikan waktu terbaiknya, untuk mencurahkan kasih sayang bagi keluarga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam Al-Qur’an Surat An Nahl:72

 وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

 “Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ? ”

Ilustrasi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. sumber : tebuireng.online

Kesimpulan

Pertama, agama Islam memang bersifat toleran dan elastis, mampu mengikuti perubahan-perubahan zaman dan waktu serta tradisi yang melingkupinya. Hal ini tak terkecuali dalam kasus pandemi covid-19. Terdapat perubahan-perubahan keberagamaan yang memang harus ditaati sebagai upaya untuk menjaga keselamatan jiwa/nyawa setiap orang mukmin yang melaksanakan ibadah selama bulan Ramadhan. Perubahan tersebut didasarlan pada maqashid al-Syari’ah yaitu hifdzu al-nafs (menjaga jiwa)

Kedua, Ramadhan selamanya tetap membawa keberkahan. Tidak peduli wabah pandemi covid-19, puasa tetap dijalankan dengan penuh khusyuk dan keikhlasan. Bahkan, rasa solidaritas dan kepedulian siosial semakin meningkat. Walaupun dibatasi jarak untuk bersilaturahim, lewat internet pun tak kalah syahdu untuk menghapus rindu dengan sanak famili. Selamat Berpuasa semoga meraih derajat ketaqwaan.

Penulis : Izzatul Laila, M.Pd.I
Penasehat ISNU Dampit
Guru MTsN I Malang

Author: isnudampit

1 thought on “RAMADHAN DAN PERUBAHAN KEBERAGAMAAN DI TENGAH COVID-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *